*Kolaborasi untuk Kedaulatan Pangan dan Energi*
Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Gubernur Mirza kembali menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, serta seluruh mitra yang telah mengambil bagian dalam pengembangan pusat bioetanol tersebut.
Ia mengajak seluruh pihak menjadikan momentum launching sebagai awal kolaborasi yang lebih kuat untuk memperkuat sektor pertanian, mengembangkan energi terbarukan, dan menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Dari tanah Lampung, kita siap memimpin Indonesia menuju kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kemakmuran rakyat berkelanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menjelaskan bahwa pengembangan bioetanol di Provinsi Lampung ini berpijak pada empat pilar fundamental kebangsaan, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi nasional.
Todotua mengungkapkan, apabila pada segmen diesel pemerintah telah sukses menorehkan kedaulatan energi melalui program B50 berbasis minyak kelapa sawit mentah (CPO), maka bioetanol hadir sebagai solusi konkret substitusi bahan bakar bensin (fuel) yang konsumsi nasionalnya mencapai 36 juta kiloliter per tahun. Hal ini dinilai krusial untuk menekan beban subsidi energi APBN yang saat ini menembus ratusan triliun rupiah per tahun akibat fluktuasi minyak mentah dunia.
Dipilihnya Provinsi Lampung sebagai lokasi pengembangan sentra bioetanol nasional berawal dari penelusuran riset teknologi biomassa di Fukushima, Jepang. Dari kunjungan tersebut terungkap fakta membanggakan bahwa riset enzim dan bibit sorgum unggul yang digunakan industri otomotif Jepang berasal dari tanah Lampung.