Dari Lumbung Pangan Jadi Lumbung Energi, Gubernur Mirza Dorong Lampung Pimpin Pengembangan Bioetanol

Redaksi - Senin, 14 Sep 2026 - 03:02 WIB
Dari Lumbung Pangan Jadi Lumbung Energi, Gubernur Mirza Dorong Lampung Pimpin Pengembangan Bioetanol
Foto: Dok. Pemprov Lampung -
Advertisements

 

"Waktu saya lihat plan di Jepang kapasitas 60.000, saya ketemu dengan orang-orang risetnya, mereka tahu Lampung. 'Enzim yang kita pakai di sini, kita risetnya di Lampung. Sorgum yang kita tanam di sini, bibitnya dari Lampung dan kita riset di Lampung, kita bawa.' Saya bilang tinggi betul. Di Jepang bisa buat begini, masa negara saya nggak bisa buat?," ungkap Todotua.

 

Advertisements

Selain berkaca dari teknologi Jepang, Todotua juga merujuk pada keberhasilan Brasil yang memproduksi 38 juta kiloliter bioetanol per tahun dari bahan baku singkong, jagung, dan sorgum dengan harga jual hampir separuh dari harga bensin. Keberhasilan Brasil tersebut turut terintegrasi dengan ekosistem peternakan sapi skala raksasa melalui pemanfaatan ampas distilasi bioetanol menjadi pakan ternak berkualitas tinggi serta pemanfaatan limbah menjadi gas biometana dan pupuk organik (zero waste circular economy).

 

Guna merealisasikan model tersebut di Lampung, fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 pada skala pilot project 60 kiloliter dengan lahan demplot budidaya seluas 10 hektare. Fasilitas ini akan menguji dan memvalidasi keekonomian produksi bioetanol generasi pertama (berbasis singkong dan sorgum) maupun generasi kedua (berbasis limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu).

 

Advertisements

"Development Center ini kita bangun untuk kita mengukur dari sisi komersialisasinya, berapa harga kompetitif cost-nya yang bisa kita dapat. Karena yang namanya energi transisi, tantangan paling besarnya itu berbicara mengenai harga, cost. Target tahun depan kita dorong masuk skala komersial 60.000 kiloliter," tegas Wamen.

 

Todotua kemudian menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal atas kepemimpinan yang responsif dan akseleratif dalam penyiapan lahan pendukung proyek hilirisasi energi hijau tersebut, dari semula 2 hektare menjadi 10 hektare. Skema ini ke depan akan dikembangkan secara inklusif dengan melibatkan kelompok tani lokal dan wadah koperasi sebagai penyedia bahan mentah (feedstock hub).

 

Advertisements

"Harapannya kita juga bisa menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik atau tepung. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan menjadi hub untuk mengumpulkan material feedstock-nya, pabrik ini offtaker-nya. Jadi ekosistemnya sangat luar biasa dan sangat nyambung," tutur Todotua.

 

Advertisements
Share:
Editor: Redaksi
Source:

BACA JUGA

Advertisements

BERITA POPULER

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

BERITA TERBARU

Advertisements

BERITA PILIHAN

Advertisements

TAG POPULER

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

VIDEO TERBARU

Advertisements
© 2024 Deskripsinews.com. All Right Reserved.