Menurut Gubernur Mirza, produksi pertanian Lampung yang surplus turut berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan nasional. Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan teknologi bioetanol berbasis berbagai bahan baku atau multi-feedstock dan menghasilkan berbagai produk turunan melalui konsep multi-generation bioethanol.
“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Ia harus menjadi sumber investasi. Ia harus menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.
*Sorgum dan Pengembangan Ekosistem Bioetanol*
Gubernur Mirza menekankan bahwa pengembangan industri bioetanol tidak cukup hanya dengan membangun pabrik. Ekosistem yang mendukungnya juga harus disiapkan secara menyeluruh.
Ekosistem tersebut mencakup pengembangan benih, budidaya tanaman, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol, hingga pemanfaatan produk turunannya.
Karena itu, pengembangan sorgum sebagai bahan baku atau feedstock dan pembangunan Bioethanol Development Center Lampung harus berjalan sebagai satu kesatuan.
Pusat pengembangan ini diharapkan menjadi tempat lahirnya inovasi, pengembangan riset, pengujian teknologi, pengumpulan data, serta penyusunan model bisnis yang dapat diterapkan dalam skala industri.