Selain itu, Gubernur Mirza menyoroti masih tingginya penjualan komoditas dalam bentuk mentah, yang mencapai 70 persen. Ia mendorong langkah hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah melalui peran UMKM.
“Contoh singkong kalau dijual mentah dengan yang sudah dijadikan kripik, itu bisa naik 3 sampai 5 kali lipat,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan UMKM bisa menjadi solusi cepat dibanding menunggu industrialisasi skala besar. Dengan peningkatan kualitas SDM, UMKM dapat langsung memberikan dampak ekonomi signifikan.
Untuk itu, pelaku UMKM perlu dibekali berbagai keterampilan, mulai dari pengelolaan keuangan, inovasi produk, hingga strategi pemasaran modern. Ia juga menekankan pentingnya membuka pasar baru dan memperluas jaringan usaha.
“UMKM harus terus berinovasi, kreatif, dan berani membuka pasar baru. Ini tidak bisa dilakukan sendiri,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menekankan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sebagai alat untuk meningkatkan daya saing produk.
“Teknologi kita pakai untuk menutupi kekurangan kita. AI membantu UMKM menjadi lebih efisien dan produknya punya standar yang bisa bersaing,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan adaptasi teknologi dan penguatan SDM, UMKM Lampung mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah hingga mencapai target 8 persen.
“Kalau SDM kuat, inovatif, dan adaptif terhadap teknologi, UMKM kita akan naik kelas dan menjadi kekuatan ekonomi yang besar,” tambahnya.
Sebanyak 220 pelaku UMKM mengikuti pelatihan ini. Gubernur Mirza berharap mereka menjadi pelopor UMKM unggulan di Lampung serta inspirasi bagi pelaku usaha lainnya.
“Saya ingin peserta hari ini menjadi UMKM terdepan yang mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung dan menginspirasi yang lain,” pungkasnya.