"Imbasnya salah satunya adalah daya konsumtifitas, ya. Kami melihat indikator-indikator konsumsi dari Provinsi Lampung, yang pertama itu pembelian mobil. Pembelian mobil di kabupaten-kabupaten pertanian ini meningkat hampir 40% lebih, terutama di mobil pertanian, mobil light truck, truck dan van. Yang kedua juga penjualan dari Semen Indonesia melaporkan kepada kami, penjualan semen retail di kabupaten-kabupaten juga meningkat hampir 20% di tahun ini," ungkap Gubernur Mirza.
Kondisi tersebut turut mendorong performa makroekonomi daerah, dimana Lampung kini menempati peringkat kedua pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera.
"Banyak sekali indikator-indikator konsumtifitas yang tinggi dan tumbuhnya itu di kabupaten terutama di kabupaten yang (mengandalkan) pertanian. Terima kasih kepada Pak Prabowo, terima kasih kepada Mentan atas perhatiannya kepada petani dan dan karena kebijakan-kebijakan itu ya hari ini Lampung menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi nomor dua tertinggi se-Sumatera. Ini semua karena kebijakan pertanian, terima kasih," tuturnya.
Menjawab tantangan ke depan, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen mengawal transformasi sektor agraris melalui program hilirisasi di tingkat desa agar komoditas lokal memiliki daya saing global.
"Ke depan juga kita akan terus mendorong pertumbuhannya selain dari pertanian juga menghilirisasi produk-produk hasil pertanian," tegas Gubernur Mirza.
Sebagai wujud nyata hilirisasi, Kabupaten Pringsewu siap mencatatkan ekspor perdana tepung mocaf olahan petani lokal ke pasar Amerika Serikat pada bulan mendatang.