"Belum mencukupi, belum cukup ideal untuk kebutuhan anak-anak yang istimewa ini," ujarnya.
Ia juga menyoroti Kabupaten Pesisir Barat yang hingga kini belum memiliki SLB. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian bersama agar akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat semakin merata.
Wagub turut memberikan apresiasi kepada para guru, tenaga pendidik, pendamping, serta orang tua yang selama ini memberikan pendampingan dan dukungan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
"Semoga para tenaga pendidik dan guru senantiasa diberikan kesehatan dalam bertugas. Kepada para orang tua, saya berharap tetap menjadi sumber semangat bagi putra-putri tercinta. Jangan pernah merasa sendiri karena insyaallah Ibu Ketua dan kami semua akan terus membersamai," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Dharma Pertiwi Evi Agus Subiyanto mengatakan, anak-anak berkebutuhan khusus merupakan amanah yang membutuhkan dukungan, kesempatan, kepercayaan, dan pendampingan secara berkelanjutan agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Ia mengajak para orang tua untuk menjadi mitra bagi anak dengan memahami minat dan potensi mereka, bukan sekadar memberikan larangan.
"Kita dorong anak-anak itu dari belakang untuk sesuatu hal yang positif. Apa yang menjadi passion-nya, apa hobinya, kita dukung. Insyaallah bisa berhasil," ujar Evi.
Menurutnya, semangat tersebut juga diwujudkan melalui Program Orang Tua Asuh yang diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, melainkan menjadi ikatan kepedulian dan tanggung jawab bersama.
"Menjadi orang tua asuh berarti hadir untuk membuka kesempatan, memberikan dukungan, serta menumbuhkan keyakinan dalam diri anak-anak bahwa mereka tidak berjalan sendiri dalam meraih cita-citanya," katanya.
Evi berharap Program Orang Tua Asuh dapat berjalan secara berkelanjutan, dengan program dan target yang jelas sehingga memberikan dampak nyata bagi perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama terkait pengembangan Kafe Lubi sebagai wadah pembelajaran, pelatihan, dan pengembangan keterampilan bagi anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan di SLB.
Evi mengatakan, pengembangan Kafe Lubi merupakan bagian dari upaya menyiapkan ruang yang lebih luas bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengasah potensi, membangun kemandirian, serta mempersiapkan diri agar mampu berkarya dan berperan aktif di masyarakat.
Selain itu, dilakukan penandatanganan prasasti playground dan ruang belajar autis serta peluncuran Program Orang Tua Asuh. Playground tersebut diharapkan menjadi ruang bermain dan interaksi yang sekaligus mendukung perkembangan kemampuan motorik, sosial, dan kepercayaan diri anak.